EDISI PERDANA ELAEIS MAGAZINE

EDISI PERDANA ELAEIS MAGAZINE

Rp20.000

Pembaca kami yang budiman... 

Terimakasih telah berkenan membaca edisi perdana ini. Bukan bermaksud latah menerbitkan majalah di tengah situasi yang bagi banyak orang, membaca berita online saja sudah cukup. 

Bagi kami, keyakinan bahwa masih sangat banyak orang membutuhkan suguhan yang beda dan ditopang oleh data yang padat, menjadi dasar kami menerbitkan majalah yang saat ini masih edisi bulanan dan mudah-mudahan segera menjadi dwi mingguan. 

Dan karena keyakinan tadi pula, majalah ini boleh dibilang terlambat terbit. Sebab selain pola penyuguhan dan data, sebagai media, kami juga tetap harus menjaga etika dan norma, khususnya keberimbangan dalam menulis sesuatu yang mengandung pro dan kontra.
 
Demi menjaga etika dan norma itulah, kami berupaya meminta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) untuk berbicara panjang lebar terkait Laporan Utama yang barangkali akan segara anda baca. 

Pada 17 September 2021, jurnalis ELAEIS MAGAZINE, Josep Lopi, telah mengirimkan pertanyaan tertulis Redaksi kepada Direktur Jenderal Planologi Kehutanan dan Lingkungan (Dirjen PKTL), Ruandha Agung Sugardiman, melalui pesan whatsapp. Pesan itu dibaca namun tidak direspon. 

Lantaran tidak direspon, Josep mencoba menghubungi melalui sambungan telepon. Sayang, panggilan itu malah di-reject. Meski mendapat perlakuan seperti itu, Josep tidak menyerah, tapi kemudian menyampaikan pertanyaan tertulis itu kepada Kepala Biro Humas KLHK, Nunu Anugrah, untuk diteruskan ke Ruandha. Atau setidaknya, Nunu yang memberikan tanggapan. 

Lagi-lagi sayang, Nunu hanya mengatakan bahwa pertanyaan ELAEIS itu sudah disampaikan tapi tidak direspon Ruandha. Josep pun mendatangi Gedung Manggala Wanabakti di kawasan Gatot Soebroto, Jakarta, pada 4 Oktober 2021. Hingga jam kerja kantor usai, yang dituju tak nongol juga. 

Oleh perburuan demi keberimbangan tadi lah kemudian majalah ini terlambat terbit. Keberimbangan yang bagi kami teramat penting lantaran majalah ini kami hadirkan bukan untuk menyudutkan siapapun, tapi justru sebagai wadah bersama demi rakyat dan sawit Indonesia.

Sebagai edisi perdana, bisa saja kami terjebak pada typo maupun data yang kurang lengkap. Untuk itu, kritik dan saran tentu sangat kami butuhkan demi kesempurnaan edisi berikutnya. Selamat membaca…